AGUSTUS’AN

13 08 2007

agustusan.jpgBulan Agustus, Bulan Yang sangat Istimewa Bagi Bangsa Indonesia. Berbagai Festifal dan Lomba mewarnai Bulan Istimewa ini.

TANGGAL 17 Agustus merupakan tanggal yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia. Hal itu bisa dipahami mengingat pada tanggal itulah republik ini memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa asing. Karena itulah, setiap bertepatan atau beberapa hari menjelang dan sesudah tanggal 17 Agustus, nyaris seluruh warga masyarakat, termasuk para elite politik, di berbagai pelosok negeri ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, sadar dan tanpa sadar, larut dalam suasana pesta perayaan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia.

Ekspresi masyarakat dalam merayakan hari kemerdekaan tentunya tidak seragam. Ada beragam bentuk dan banyak cara masyarakat Indonesia untuk memenuhi hajat merayakan hari bersejarah tersebut. Pada umumnya hal itu dilakukan dalam bentuk mempersolek lingkungan dan fasilitas umum seperti jalan raya, gang-gang besar, etalase-etalase pertokoan, dan ruang depan perkantoran dengan berbagai atribut berwarna merah putih. Hari kemerdekaan juga suka dirayakan dengan menggelar pawai, karnaval, dan pameran produk-produk lokal dan nasional seperti makanan, pakaian, dan barang-barang kerajinan.

Dalam rangka merayakan hari kemerdekaan, masyarakat juga kerap menyelenggarakan berbagai pegelaran yang membuat peserta atau banyak orang menjadi terhibur seperti pertandingan sepak bola berpesertakan ibu-ibu, balap karung, tarik tambang, panjat pinang, main kartu gapleh atau remi, dan pertunjukan kesenian rakyat seperti calung atau wayang. Namun, ada pula sebagian anggota masyarakat yang melangsungkan perayaan hari kemerdekaan dengan cara-cara yang beraroma maksiat seperti pesta minum minuman keras dan berjudi!

Aroma perayaan hari kemerdekaan biasanya sudah terasakan jauh-jauh hari sebelumnya. Tengok saja tingkah polah para remaja kita di pinggir –dan tak jarang di tengah-tengah– jalan-jalan raya akhir-akhir ini. Sejak pagi hingga sore hari, mereka berkelompok meminta sumbangan perayaan kemerdekaan kepada para pengemudi dan penumpang kendaraan pribadi dan umum dengan cara menukarkannya dengan air minum kemasan gelas sebagai tanda terimakasih atas sumbangan yang diberikannya. Untuk menarik simpati masyarakat, mereka tidak lupa memasang bendera dan berbagai atribut berwarna merah putih lainnya dan menyetel lagu-lagu perjuangan dengan suara yang keras di tempat pemungutan sumbangan.

Hal itu mereka jalankan karena rupanya pesta perayaan hari kemerdekaan, sebagaimana yang berlangsung beberapa tahun terakhir ini, menuntut biaya yang tidak sedikit. Bagi mereka, sumbangan pemerintah setempat –kalaupun ada– tidaklah cukup untuk menyelenggarakan perayaan hari kemerdekaan. Kita “dipaksa” harus memahaminya karena rupanya perayaan hari kemerdekaan nyaris di setiap tempat dan daerah harus –terkesan wajib– mengagendakan rangkaian kegiatan yang biasanya ditutup dengan sebuah pegelaran hiburan massa terutama yang disukai banyak kalangan remaja seperti pertunjukan musik dangdut dan rock. Bagi mereka, tanpa musik hingar-bingar, perayaan hari kemerdekaan seperti sayur tanpa garam.

Pada saat berlangsungnya pergelaran puncak pesta tersebut yang biasanya diselenggarakan di lapangan yang luas dan terbuka, sang aktor dan para penonton larut dalam suasana penuh kegembiraan. Mereka, warga setempat yang kadang bercampur baur dengan para pendatang dari kampung, kelurahan, atau kota lain, tiba-tiba seperti dalam keadaan ekstase, tersenyum lebar, tertawa terpingkal-pingkal, melonjak kegirangan, berjingkrak-jingkrak, bertepuk tangan, bersuit, berteriak-teriak histeris, atau bersama-sama menirukan lirik lagu sang penyanyi atau mengikuti goyangan dan gerakan sang bintang panggung.

Kegembiraan itu rupanya tidak hanya dinikmati masyarakat di lapangan terbuka, tapi juga dapat dikonsumsi masyarakat secara langsung di depan televisi. Perayaan hari kemerdekaan semakin menyedot perhatian jutaan pasang mata warga masyarakat Indonesia setelah televisi ikut memeriahkan momentum bersejarah tersebut melalui pemberitaan dan program-program siaran yang dikemasnya semenarik mungkin sehingga menjadi bahan tontonan yang bersifat kolosal. Apalagi, dengan kekuatan modal yang dimilikinya serta dukungan iklan, televisi sanggup menyuguhkan kebolehan penyanyi papan atas dan (kadang) elite politik tertentu sebagai bintang tamu.

Dalam konteks inilah, menyelenggarakan dan menonton pesta perayaan hari kemerdekaan telah menjadi sebuah ritualitas. Dengan gencarnya pemberitaan dan program-program siaran televisi dalam memeriahkan HUT kemerdekaan, ritualitas perayaan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di lapangan-lapangan terbuka, tapi juga berlangsung di dalam rumah-rumah panggung dan mewah, penginapan dan hotel berbintang, tempat jajanan dan pusat perbelanjaan, gedung-gedung perkantoran, dan tempat-tempat tertutup lainnya.

Kondisi psikologis masyarakat seperti ini sesungguhnya merupakan potensi sekaligus ekspresi dari kesadaran nasional(isme) yang berlawanan dengan sifat-sifat individualisme dan rasionalisme. Ekspresi nasionalisme muncul ketika masyarakat yang terlibat dalam pesta perayaan hari kemerdekaan mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang terlibat dalam proses kemerdekaan Indonesia yang kerap kita sebut sebagai pejuang atau pahlawan kemerdekaan atau simbol-simbol, baik dalam bentuk fisik maupun bahasa verbal, yang menyertainya.

Hal itu dapat dengan mudah kita saksikan, misalnya, ketika para peserta pawai atau karnaval mengenakan berbagai atribut yang menyerupai para pejuang kemerdekaan, ketika sang aktor teater memerankan seorang pahlawan kemerdakaan, atau ketika sang bintang panggung di lapangan terbuka atau televisi menyanyikan lagu-lagu perjuangan atau kepahlawanan.

Namun, apakah aktivitas dan ekspresi mereka berbanding lurus dengan semangat nasionalisme? Apakah penampilan dan peran mereka di atas panggung benar-benar berangkat dari kekuatan empati mereka terhadap para pejuang yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk sebuah kemerdekaan? Lalu, apakah para penonton serta para partisipan lainnya dalam kegiatan-kegiatan “Agustusan” dapat menikmati dan meresapi pesan-pesan sekaligus mengambil makna-makna dan nilai-nilai sejarah dari momentum perayaan hari kemerdekaan?

Pertanyaan pertama perlu diajukan mengingat karakter orang di depan panggung seringkali berbeda dengan karakter sesungguhnya. Di “panggung belakang” (back stage), meminjam teori dramaturgis Erving Goffman, sang aktor suka mengelola kesan (impression management) untuk menutup karakter aslinya dengan riasan-riasan yang sesuai dengan tuntutan perannya di “depan panggung” (front stage).

Sedangkan dua pertanyaan terakhir sangat menarik untuk didiskusikan mengingat adanya kecurigaan sebagian kalangan kalau perayaan hari kemerdekaan beberapa tahun terakhir ini merupakan ritualitas tanpa makna atau sekadar rutinitas tanpa jiwa dan visi. Pada saat pegelaran musik atau permainan-permainan “Agustusan” lainnya yang melibatkan banyak orang, misalnya, keterlibatan masyarakat, termasuk elite politik, baik sebagai penonton maupun sebagai penampil, kebanyakan hanya didorong oleh keinginan sesaat seperti mencari hiburan, tak lebih dari itu.

Pantas saja kalau setelah “Agustusan”, dinamika sosial politik kita berjalan sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Tak ada berubahan yang signifikan. Buktinya, kasus-kasus perjudian, premanisme, narkoba, pemerkosaan, pornografi, penjarahan hutan, jual beli hukum, dan korupsi yang merupakan tindakan pengkhianatan terhadap cita-cita para pahlawan masih saja tumbuh subur di bumi Indonesia.

Pun demikian masalah keseharian antar tetangga, kembali seperti semula. Yang asalnya ramai-ramai saat melakukan “Agustusan” kembali menjadi sosok individualistis yang tidak peduli dengan permasalahan yang dihadapi tetangga lainnya. Mereka yang asalnya tidak peduli dengan rakyat kembali ke wuudnya semula.

Karena itulah, kali ini kita amat memerlukan sebuah ritualitas peringatan hari kemerdekaan untuk menyelami pesan-pesan perjuangan dan menggali kembali nilai-nilai kebangsaan dan selanjutnya mengaplikasikannya ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kegiatan ritual yang dimaksud tentunya tidak selalu harus dalam bentuk kegiatan besar yang menuntut biaya tinggi. Berbiaya rendah atau bahkan tidak berbiaya sama sekali, sebuah ritualitas peringatan hari kemerdekaan justru akan memperoleh makna yang sangat bernilai kalau berangkat dari tujuan yang jelas.***

Ketua Umum Masyarakat Perpustakaan Jawa Barat (Mapusta Jabar), dosen FISIP Universitas Pasundan dan Universitas Al-Ghifari.

MERDEKA…!


Actions

Information

4 responses

14 08 2007
ekosuper

Pantaskah kita disebut merdeka, ketika ribuan buruh sepatu berunjukrasa memohon bangsa asing dengan merk NIKE agar terus menjajah??
Pantaskah kita disebut merdeka, ketika ribuan TKW harus mencari uang dengan bertaruh nyawa di negeri orang?? Dan pemerintah hanya bisa mengelak dari tanggungjawab dengan berkata “Mereka adalah Pahlawan Devisa”

Sebenarnya, merdeka itu gimana sichh??

14 08 2007
Liexs

Semua kantor dan masyarakat pada pasang bendera, soalnya kalau enggak, bakal dimarahin tuh sama pak RT.
Jadi masangnya terpaksa nggak sich?

15 08 2007
rizal

merdeka:bebas,tidak terjajah
17 agustus 1945:bebas,tidak terjajah lagi oleh jepang dan belanda dan kita berterima kasih pada para pahlawan kita untuk itu.
sekarang?setiap hari adalah perjuangan melawan penjajahan model baru seperi melawan peredaran narkoba yang sudah sampai ke kalangan anak2,atau parahnya lagi kita sendiri yang jadi penjajah,contoh:simple aja deh ,merokok di tempat umum,dimana sering kita lihat wanita,anak2(nya sendiripun) jadi korbannya.

so,buat yang terbawa romantisme kemerdekaan ,pikir lagi deh, merdeka dari apa?sudahkah kita berhenti menjajah (hak) orang lain?

btw,nice article,salam:-)

15 08 2007
mathematicse

Merdeka!!!

JAdi kangen, pengen pulang kampung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: