Pembenahan infrastruktur kunci utama investasi Banten

13 03 2007

Pembenahan infrastruktur kunci utama investasi Banten

Bisnis Indonesia-Berdasarkan data Badan Koordinator Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Banten, sepanjang 2005 realisasi nilai investasi yang tertanam dari 50 proyek PMA sebesar US$53,4 juta dan Rp3,87 miliar. Prediksi nilai ekspor sekitar US$9,3 juta yang disumbangkan 10 proyek aktif produksi.

Sementara untuk nilai realisasi proyek PMDN sebesar Rp2,8 triliun dari 14 proyek. Jumlah total tenaga kerja Indonesia yang terserap sebanyak 12.000 orang.

Apabila dirupiahkan, total nilai realisasi investasi yang masuk selama 2005 sekitar Rp3,8 triliun atau setara dengan 22,9% dalam peringkat lima besar nasional realisasi nilai investasi total di atas Rp1 triliun.

Sebagai provinsi yang berusia lima tahun, perolehan nilai investasi aktif itu cukup mencengangkan, jauh melampaui angka realisasi nilai investasi yang tertanam di empat provinsi lain yang selama menjadi lahan andalan investasi nasional, yaitu Jawa Barat (Rp2,96 triliun, setara 17,8%), DKI Jakarta (Rp1,9 triliun, setara 11,7%), Riau (Rp1,3 triliun, setara 6,8%), dan Jawa Timur Rp1 triliun, setara 6,6%).

Empat pilar strategi investasi:

  • Kemasan investasi siap jual : yakni potensi SDA daerah, keragaman jenis investasi, dukungan prasarana penunjang kawasan.
  • Menciptakan iklim investasi yang kondusif: yakni deregulasi perizinan, jaminan keamanan, pemberian insentif, lingkungan sosial budaya yang ramah.
  • Promosi yang tepat sasaran: Ketersediaan/kemudahan layanan informasi investasi, promosi investasi dalam bentuk road show dengan pembeli asing
  • Adanya outlet dan jalur lintas perdagangan: yakni Jalur udara, jalur laut, jalur darat.Sumber: Kepala BKPMD Banten

Namun, ‘kehebatan’ angka-angka investasi tersebut belum memberikan kebahagiaan secara riil terhadap masyarakat sekitar di mana lokasi investasi itu bergerak. Hal itu terlihat jelas dari kesanggupan perusahaan menampung tenaga kerja warga setempat tidak lebih dari 30%. Angka pengangguran produktif tetap bergerak naik setiap tahunnya.

Lahan investasi aktif yang tersedia di 17 kawasan, selama ini tidak dipelihara dengan baik oleh Pemprov Banten. Hal itu terlihat dari masih rendahnya dukungan prasarana dan sarana penunjang investasi, terutama infrastruktur jalan. Termasuk masih belum adanya jaminan keamanan atas aksi premanisme di sejumlah kawasan industri. Jelas tindakan seperti ini hanya akan menghentikan aktivitas bisnis lantaran investornya memilih pindah tempat lain, atau pulang ke negaranya.

Kepala BKPMD Banten Turmudzi mengakui, masih adanya faktor-faktor pengganggu iklim investasi. Ini diakibatkan belum optimalnya peranan pihak-pihak terkait dalam memberikan informasi tentang pentingnya investasi bagi daerah.

Dia menyebut ada strategi yang tidak dijalankan selama ini oleh pihak terkait seakan terlupakan. (lihat tabel)

Turmudzi yakin, citra buruk perilaku sosial yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi dunia usaha bisa dihilangkan. Dengan syarat elemen-elemen terkait yang berhubungan dengan pengelolaan investasi seperti pemda, aparat keamanan, serta masyarakat, ada kesamaan persepsi dalam memelihara iklim investasi yang kondusif.

Dia bahkan percaya, selama pihak-pihak terkait itu bersinergi dan konsisten dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, nilai realisasi investasi yang masuk ke Provinsi Banten akan terus melambung. Konsisten dalam arti, berpegang teguh terhadap empat pilar utama penggerak investasi yang menjadi strategi dasar.

“Untuk mewujudkan itu, kami telah mengundang 17 investor pemilik kawasan industri paling aktif di Provinsi Banten yang selama ini menjadi kawasan andalan investasi. Sehingga brand image Banten Gerbang Investasi tepat sasaran,” ungkap Turmudzi kepada Bisnis yang didampingi mantan Kepala BKPMD Muhadi yang kini ditunjuk sebagai Kepala Dinas Pendapatan Banten.

Pemprov Banten bertekad akan terus mengembangkan jaringan infrastruktur transportasi untuk menunjang aktivitas investasi. Seperti jalan cincin di wilayah utara dan selatan, jalan tol Serpong-Balaraja, Serpong-Tangerang-Bandara Soekarno Hatta, serta Cilegon-Bojonegara (untuk menunjang pelabuhan Bojonegara), dan pengembangan jalur railway komuter Serang-Pandeglang-Lebak-Tangerang, double track Serpong-Bojonegara dan Serpong-Citayam (Depok)-Nambo (Bogor)-Cikarang.

Dinilai minus

Meskipun begitu, tetap saja maksud hati Pemprov Banten itu dinilai minus oleh investor. Masyarakat di sejumlah pemerintah kabupaten dan kota bahkan menilai motto “Banten Gerbang Investasi” yang kini di setiap sudut, ibarat jauh api dari panggang apabila disesuaikan dengan kondisi kasat mata.

Pemkot Cilegon, misalnya, secara terang-terangan melucuti semua spanduk dan baliho yang memuat tulisan “Banten Gerbang Investasi” yang tengah menjadi mimpi Pemprov Banten sebagai brand image untuk menarik investasi.

Pemkot Cilegon beralasan slogan itu belum waktunya selama infrastruktur jalan yang menjadi penunjang utama investasi dalam kondisi buruk seperti sekarang. Terlebih, investasi itu masih belum merata penyebarannya karena Pemprov Banten dan tidak pernah berkoordinasi dengan baik.

Sikap perlawanan juga diperlihatkan dengan keras oleh masyarakat di wilayah Tangerang. Bahkan menilai Pemprov Banten tidak pernah berbuat adil kepada mereka. Padahal wilayah mereka menjadi penyumbang sekitar 95% ke kas Pemprov Banten. Belakangan, Pemprov Banten juga ternyata tidak harmonis dengan Pemkab Serang akibat tidak bersinerginya arah kebijakan.

Di sektor pariwisata, Pemprov Banten juga minus nilainya. Ketua PHRI Banten Ashok Kumar mengkritisi dengan keras kinerja pemerintah daerah yang lamban dan tidak inovatif. Selain lemahnya promosi, buruknya kondisi infrastruktur adalah penyebab utama monotonnya dunia pariwisata di tengah potensi elok wisata yang menjanjikan.

Pemerintah daerah, ujarnya, sepertinya masih terlena dengan angka kunjungan wisatawan. Sehinga tidak perlu peduli dengan banyaknya kubangan kerbau dan gelap gulitanya sepanjang jalur menuju objek wisata.

Dia mengungkapkan bahwa parameter keberhasilan pengelolaan pariwisata itu bukan bertumpu kepada seberapa besar angka kunjungan wisatawan.

“Tapi seberapa banyak wisatawan yang kembali datang. Itu parameternya. Kalau mereka tidak datang lagi, itu patut dipertanyakan. Berarti ada yang salah dalam pengeloaannya,” katanya kepada Bisnis.

Ashok mengaku bingung dengan pola kebijakan yang dipakai pemerintah daerah dalam mengelola dunia pariwisata, padahal alokasi dananya cukup besar. Hal itu berdampak sangat serius terhadap minimnya investasi pariwisata. Padahal potensi pariwisata sangat bagus untuk dikembangkan.

Apabila disesuaikan dengan fenomena yang berkembang, Pemprov Banten tampaknya harus bekerja ekstrakeras untuk merajut kembali keharmonisan yang telah lama terjalin dengan mesra.

Mungkin salah satunya adalah dengan merealisasikan pembenahan infrastruktur seperti yang dituntut oleh masyarakat. Sebab, meskipun alokasi APBN Banten untuk pembenahan infrastruktur yang dititipkan ke Dinas PU mencapai 35% dari total APBD Banten 2006 sebesar Rp1,8 triliun, masyarakat belum yakin benar bahwa itu sepenuhnya akan berpihak kepada kepentingan masyarakat, apalagi terhadap aktivitas investasi.

Pembenahan infrastruktur adalah kunci utama untuk meredam nada sumir masyarakat terhadap brand image “Banten Gerbang Investasi” agar tidak dianggap hanya akan jadi mimpi indah. (redaksi@bisnis.co.id)

Oleh Ade A. Hajari
Kontributor Bisnis Indonesia

diambil http://www.madani-ri.com


Actions

Information

One response

21 04 2007
gadis

hmm.. oke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: